Minggu, 29 November 2009

Takes Two to Tango

Takes two to tango, two to tango,

two to really get the feeling of romance.

Lets do the tango, do the tango,

do the dance of love.

Inilah petikan syair lagu ”Takes Two to Tango” karya Al Hoffman dan Dick Manning, 1952, sumber ungkapan terkenal ”it takes two to tango”. Mengungkapkan penyebab sesuatu yang buruk biasanya bukan dari satu pihak saja, arti harfiah lagu itu memang perlu dua orang untuk menari tango.

Berkembang awal abad ke-19 bersama datangnya imigran Eropa, tango berjalin erat dengan pasang surut kehidupan di Argentina. Belajar tango berarti memahami puisi, lirik, musik, budaya, dan sejarah rakyat Argentina. Dalam tango tak hanya ada derita dan perjuangan, tetapi juga persahabatan dan kegembiraan.

Banyaknya pria imigran datang tanpa keluarga membuat tempat hiburan tumbuh pesat. Sama seperti Madams di New Orleans, AS, yang mempekerjakan pemusik Jelly Roll Morton dan menjadi cikal musik jazz, para pengelola tempat hiburan di Buenos Aires—ibu kota Argentina—juga mempekerjakan para pemusik yang melahirkan tango.

Lirik tango tidak terbatas membahas cinta, tetapi juga bisa bercerita tentang persahabatan, tempat tinggal, pertandingan sepak bola, bahkan pacuan kuda. Beginilah lirik Palermo yang terkenal, ”Sialan kau, Palermo, yang membuatku miskin, tanpa pakaian, tanpa makan, gara-gara gajiku melayang, kalah taruhan di pacuan kuda”.

Asal kata tango adalah tango andaluz, salah satu jenis musik dari kawasan Andalusia, Spanyol, tempat tarian flamenco berasal. Tari tango diduga muncul ketika para pria yang bosan mengantre mulai menari bersama.

Pasang surut

Tango sebenarnya bukan tarian pertama yang berpasangan. Tarian dengan posisi pria dan wanita berhadapan—tangan kiri pria menggenggam tangan pasangan dan tangan kanan melingkari pinggang—tertua adalah viennese waltz, populer di Eropa tahun 1830-an. Tahun 1840-an muncul polka, baru kemudian tango yang penuh improvisasi, seksi, dan bebas berekspresi.

Tango mencapai masa keemasan sepanjang 1940-1950-an. Hampir setiap komunitas punya milonga, klub untuk belajar dan mempraktikkan tango, setiap kafe punya lantai dansa, dan teater pertunjukan tango dibanjiri penonton.

Namun, kudeta militer yang meruntuhkan kekuasaan Presiden Juan Peron, 1955, turut menyeret tango ke zaman kegelapan. Pada masa Peron, banyak seniman tango terlibat mendukung aktivitas politiknya. Begitu rezim Peron jatuh, tango dilarang dan banyak seniman tango masuk penjara.

Beberapa seniman terpaksa mengubah judul dan lirik tango. Namun, yang paling menghancurkan tango adalah masuknya musik rock n roll. Menurut Christine Denniston, pengarang buku The Meaning of Tango, hanya mereka yang berusia 18 tahun ke atas pada tahun 1955 itu yang masih mengenal tango.

Kejatuhan junta militer tahun 1983 melahirkan tango kembali. Di Buenos Aires, kelas yoga, bela diri, dan tari dipenuhi peserta. Para penari yang tersisa dari zaman keemasan mulai mengajar.

Sekarang hampir semua orang Argentina belajar tango. ”Saya belajar di sekolah,” kata Vanina Salerno dari Departemen Pariwisata Argentina.

Buenos Aires

Kisah tango membuat kami antusias menyusuri jejaknya. Berbekal peta dan buku perjalanan, saya dan dua wartawan dari Thailand serta Korea—kami bersama beberapa wartawan negara Asia lain diundang penerbangan Emirates untuk menikmati rute baru Dubai-Rio de Janeiro-Buenos Aires—berjalan kaki mencari milonga terdekat.

Di sepanjang jalan Suipacha, dekat Plaza de la Republica, toko-toko perlengkapan tango berderet-deret. Ada yang menjual sepatu saja, tetapi ada pula yang lengkap dengan kostumnya. Di trotoar depan milonga Academia de Tango Confiteria Ideal, begitu tertulis di papan namanya, ada petunjuk delapan langkah tango.

Siang itu, milonga di lantai dua dipenuhi pengunjung. Bagian tengah untuk menari, kursi dan meja merapat dinding. Hampir semua pengunjung sudah separuh baya, tetapi semangat mereka masih luar biasa: beberapa pasangan terus menari mengikuti lagu demi lagu.

Buenos Aires tentu saja bukan sekadar tango. Di kota yang sangat bergaya Eropa—dengan mayoritas imigran Italia dan Spanyol—jangan lupa menengok Plaza de Mayo. Inilah taman tempat para ibu berdemonstrasi menuntut kejelasan nasib anak-anak mereka yang hilang selama junta militer.

Di depan taman ada Pink House, yang memang bercat merah jambu, kantor resmi presiden Argentina. Di salah satu balkonnya, ibu negara Evita Peron dulu sering menyapa pendukungnya. Di sisi lain, ada Katedral Metropolitana, gereja pertama di Argentina. Di gereja itu pula pahlawan kemerdekaan General Jose de San Martin dimakamkan.

Perjalanan menyusuri Buenos Aires hari itu ditutup dengan melihat pertunjukan tango di Esquina Carlos Gardel. Didahului makan malam—lengkap dengan sampanye dan anggur—para penari melenggak-lenggok menggambarkan zaman keemasan tango. Lagu-lagu Carlos Gardel, seniman tango legendaris, menyeruak ke telinga. Mi Buenos Aires querido, cuando yo te vuelva a ver, no habra mas penas ni olvido. Cintaku, Buenos Aires, saat melihatmu, tak ada lagi penderitaan.
READ MORE ~>> Takes Two to Tango

Minggu, 15 November 2009

Jaringan Speedy Bangsat

Jaraingan speedy bangsat, hari ini saya kesel sekali dengan jaringan speedy sudah loading dua jam gak kelar-kelar gimana gak kesel coba? Padahal saat ini saya lagi ikutan contest yang diselenggarakan oleh PT.Pertamina dengan keyword Kerja Keras Adalah Energi Kita, saya punya waktu banyak hanya dihari sabtu dan minggu, sedangkat dihari itulah jaringan speedy pasti lagi jelek-jeleknya, jaringan speedy bangsat, mungkit kata-kata tersebut yang pas buat jaringan spedy.

Jaringan Speedy Bangsat, cuma mahal doank dan kualitasnya jelek dan jelek sekali. Saya membutuhkan jaringan internet tiap hari karena saya bekerja sebagai karyawan yang kebetulan pekerjaan saya menggunakan jaringan internet, kalau pas pekerjaan saya lagi gak begitu mendesak sih gak masalah, tapi kalau pas lagi mendesak dan jaringan speedy-nya kaya gini gimana donk apa gak kesel? Klien pun bisa kabur kalau service kita gak memuaskan gara-gara jaringan speedy keparat.

Kalau cuma ikutan contest Kerja Keras Adalah Energi Kita sih gak masalah bagi saya, dan kemingkinan untuk menang itu sangat kecil, tapi kalau lagi jawabin e-mail klien terus jaringannya susah kaya gini wah... bisa-bisa kita putus hubungan ma klien.

Pernah suatu ketika terjadi dan hal ini ada hubungannya dengan masalah pekerjaan, klien saya sedang mengirikan sample perangkat telekomunikasi yang akan di uji di Balai Besar Pengujian Perangkat Telekomunikasi untuk proses mendapatkan sertifikat resmi agar klien saya bisa menjual produknya di Indonesia, pada waktu itu hp saya sedang rusak, terpaksa saya berkomunikasi dengan klien saya menggunakan fasilitas internet.

Perangkat klien saya ditahan di bea cukai karena klien saya pada waktu itu belum paham betul mengenai persyaratan sample uji dan peraturan di Indonesia khususnya. Dia panik, menghubungi saya lewat handphone gak bisa karena hendphone saya sedang rusak, melalui e-mail gak nyampai-nyampai karena jaringannya jelek kaya gini, padahan tahu sendiri kan berapa biaya yang harus dikeluarkan jika barang atau perangkat kita ditahan dibea cukai, itungannya perhari bro... dan biaya dendanya sangat mahal.

Setelah klien saya bisa menghubungi saya melalui e-mail dan sudah bisa telpon saya kembali karena handphone saya sudah diperbaiki, wah... dia marah-marah gak karuan sama saya, saya sih sudah gak kaget sama hal seperti itu dan saya sudah biasa di marah-marahin. Dikiranya saya main-main dengan pekerjaan ini, karena itu... adauh.... Pusing juga dengernya.

Tapi akhirnya dia ngeti qok dan menyadari bahwa Jaringan Speedy Bangsat untuk di daerah Bekasi, gak tahu kalau didaerah lain, karena saya saat ini tinggal dan bekerja di daerah Bekasi.

Bagi anda yang setuju dengan pendapat saya, silahkan memberikan komentar apa saja tentang jaringan speedy jelek, bangsat, baby atau apa saja yang berkaitan dengan tulisan saya, dan yang berkomentar gak ada kaitannya dengan tulisan saya diatas, mohon ma'af terpaksa saya hapus. Terima Kasih.
READ MORE ~>> Jaringan Speedy Bangsat